Jadi Yang Kedua… Percaya Dia Cinta?

Image

Saya jelas tidak. Apapun alasannya atau semulus apapun rayuannya, I’m not buying it. Pasalnya, kalau memang cintanya seluas samudera, setinggi lapisan ozon, semurni susu sapi, sehalus pantat bayi, sedalam sumur tetanggamu, atau se-se-se apapun lainnya yang dia katakan, dari awal dia tak bakal menjadikanmu yang kedua.

Saya masih percaya hal-hal klise nan drama macam cinta pada pandangan pertama, jodoh tak lari kemana, sampai pada istilah-istilah yang sering kau dengar seperti telat ketemu, salah timing, atau pilih sahabat. Tapi tidak satu pun dari itu yang bisa dijadikan alasan untuk menjadikanmu yang kedua.

Ketika kamu menempati posisi malang menjadi yang kedua itu, kau merugi besar, kawan. Kau jelas tidak bisa meminta semua waktunya, tidak bisa menceritakan pada siapapun—lebih jelas lagi, dia belum tentu juga bisa muncul saat kau butuhkan, tidak boleh cemburu, tidak boleh marah, dan saat kau akhirnya cemburu atau marah, kau tetap tidak bisa apa-apa. Terbayang toh neraka dunia macam apa itu? Well, tentu kondisi itu berlaku kalau kau diduakan saat single, alias tidak menduakan pula si orang yang menduakanmu itu.

Kalau pacarmu—atau pacar orang yang juga ‘memacarimu’—memang punya seonggok cinta sungguhan buatmu, dia akan mencari jalan untuk melepaskan pacar resminya demi kamu, sekalipun resikonya menyakiti hati si pacar resmi, orang tuanya, atau bahkan mungkin terancam batal kongsi usaha dengan bapaknya. Dia akan tetap menyudahi hubungannya dan secara resmi memintamu jadi pacarnya—dan kau pun harus siap mendukungnya di masa sulit, tentu.

Sayangnya, di dunia yang makin amburadul dan apa-apa jadi makin sulit ini, banyak orang yang tidak ingin mengorbankan kemudahan-kemudahan hidup demi cinta. Itulah ketika si dia memilih untuk menjadikanmu yang kedua, dengan kata-kata pamungkas macam: ‘walaupun dia yang statusnya pacar aku, tapi aku cintanya cuma sama kamu’, dan sejenisnya. Kawan, dia tidak cukup berani untuk meninggalkan pacarnya—yang mungkin sudah 5 tahun dipacarinya atau sepaket dengan koneksi kemana-mana, misalnya—tapi juga tidak cukup kuat untuk melepaskanmu. Well, mungkin memang cintanya sungguhan, it’s just he doesn’t love you enough to make him leave everything behind.

Jadi… Alangkah baiknya untuk hidupmu sendiri kalau kamu tidak menggantungkan semua stok cintamu beserta jiwa ragamu pada orang yang menjadikanmu yang kedua. Lebih baik lagi jika kau tidak usah jadi yang kedua sekalian, alias tidak usah cari penyakit. Yah, lagi-lagi, kecuali kau dan dia memang saling menduakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s